BIAS ANTARA KARAKTER MAHASISWA DAN MAHASANTRI DALAM DUNIA KAMPUS

Abstrak 

Mahasiswa dan Mahasantri adalah suatu lebe yang sama, hanya saja adayang menjadikan kedua ini seakan berbeda. Seyogiyanya jika anda mahasiswa dan sekaligus mahasantri anda akan lebih kritis dan lebih humanis, yang dikarenakan sifat dari keduanya (Mahasiswa, Mahasantri). Jangan jadikan kata Mahasantri alasan untuk tidak kritis terhadap sosial, dan regulasi kampus.

Keyword: Mahasiswa, Mahasantri, difusi Mahasiswa dengan Mahasantri, Kampus.

Etimologis dari kata kampus diambil dari bahasa latin yakni campus yang bermakna lapangan luas, tegal. Sedangkan pengertian modernnya, kampus bermakna sebuah kompleks atau daerah tertutup yang merupakan kumpulan gedung-gedung universitas atau oerguruan tinggi. 

Untuk termenologis dari pada kampus adalah lembaga yang memberi pemahaman kepada mahasiswanya setelah pendidikan menengah. Dan hal ini di pertegas di UU nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi pasal 1 ayat 2 yang berbunyi, “Pendidikan Tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, program sarjana, program magister, program doktor, dan program profesi, serta program spesialis, yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia”.

Simplifikasnya kampus adalah lembaga atau tempat yang memfasillitasi belajar bagi seorang yang telah selesai dari pendidikan menengah, dan yang nantinya orang yang belajar di kampus di beri panggilan sebagai mahasiswa tidak seperti di masa pendidikan menengah dan seterusnya yakni di beri penggilan siswa.

Dalam dunia kampus kita akan di pertemukan dengan pelbagai baground (latar belakang) mahasiswa yang berbeda-beda, ada yang memang baground mereka dari kalangan yang sudah terbiasa dalam dunia pendidikan umum (sekolah umum) saja, dan ada baground dari kalangan yang kebiasaanya pada dunia pendidikan klasik saja seperti kitab-kitab kuning, biasanya pendidikan klasik ini terdapat di pesantren. Namun tidak menutup kemungkinan ada mahasiswa yang baground dari keduanya yakni dari dunia pendidikan umum (sekolah umum), dan klasik (pesantren).

Cara dalam pembelajaran mahasiswa ini sangat signifikan perbedaanya, yang mana hal ini terjadi karena faktor baground dari mahasiswa itu sendiri. Tetapi bukan berarti menutup kemungkinan ada persamaanya. Seperti contoh untuk perbedaan dan persamaan, mahasiswa yang baground dari pendidikan umum (sekolah umum) dalam cara belajar ketika mereka ada hal yang tidak mengerti, atau berbeda pendapat dalam suatu pemahaman mereka menyampaikan kepada dosennya, namun biasanya ada beberapa dari mereka yang ketika bertanya tidak memperhatikan attitude, dapat dikatakan yang penting disampaikan meski tidak menggunakan sopan santun. 

Dan hal ini sangat berbeda jauh dengan mahasiswa yang baground nya dari dunia pendidikan klasik (pesantren), yang mana dalam cara belajarnya ketika ada hal yang mereka tidak mengerti, atau ada hal yang berbeda pendapat dalam suatu pemahaman mereka menyampaikan kepada dosennya, namun mereka yang bertanya ini dalam penyampaiannya sangat menekankan yang namanya attitude. Tetapi ada beberapa dari mereka yang sangat dramatis dalam menekankan attitude, sehinga pertanyaan atau pendapat mereka seringkali batal untuk di sampaikan yang dikarenakan takut keluar dari attitude. 

Dan cara pembelajaran dari masing-masing baground mahasiswa ini menjadi darah daging sampai saat ini. Yang seharusnya ketika mahasiswa sudah duduk dibangku kuliah kebiasaan yang ada dimasa bangku sekolah ataupun di pesantren harus dirubah, karena sudah tidak relevan agar mahasiswa ini dapat menghidupkan suasana diskusi didalam pembelajaran di bangku perkuliahan lebih masif. 

Secara normatif pembelajaran Mahasiswa di bangku perkuliahan tidak menoton pada seperti halnya di bangku sekolah ataupun pesantren yang menggunakan pembelajaran dari satu arah saja, (dari guru saja) tetapi cara pembelajarannya tidak di fokuskan pada guru atau dosen yang mengajarnya yakni menggunakan 2 arah (dari mahasiswanya ataupun dari dosennya) demi meingkatkan pola pikir mahasiswa yang kritis. Namun pola pikir mahasiswa yang kritis tidak dapat dicapai jika cara belajarnya mahasiswa tetap menggunakam cara belajar di masa sekolah ataupun di masa pesantren. 

Maka dari itu seyogiyanya mahasiswa ini harus mampu merubah cara belajarnya masing-masing. Dan disini penulis sendiri berapologi bahwa cara pembelajarannya dari pada dihilangkan lebih baik di difusikan atau digabungkan dengan cara pembelajaran di kampus. Jadi hasil penggabungan dari cara belajarnya menghasilkan cara pembelajaran yang lebih kritis dan humanis. Mungkin hal ini bagi mahasiswa yang bagruond nya dari dunia pesantren masih canggung untuk menerapkan jiwa kritis ataupun mengkrtisi orang yang berbeda pemikliran. Tapi jika hal ini menurut penulis kurang tepat dalam hal (cara meletakkan kata ettitude) karena jika Mahasiswa selalu menjadikan kata ettitude untuk tidak bertanta, maka adalah hal yang sangat bias ketika mahasiswa ingin menjadi mahasiswa yang berpola pikir yang kritis.

Klick disini untuk membaca artikel menarik lainnya 

Simpilifikasi dari tulisan ini, ketika seseorang berlebel sebagai mahasiswa dan sekaligus berlebel sebagai Mahasantri seyogiyanya lebih kritis dan humanis karena di samping mahasiswa ini kritis ditambah dengan lebel mahasantrinya yang sifatnya sopan sehingga dalam penyampaian hal yang sifatnya mengkritisi lebih sopan dan santun (menggunakan ettitude).


Untuk penjelasan lebih lanjut Download disini