PERBANDINGAN PSIKOLOGI KELUARGA BARAT DENGAN PSIKOLOGI KELUARGA ISLAM

Ainul Faqi Imron

Email: afifaqih.id@gmail.com

Prodi Hukum Keluarga Islma, Fakultas Syariah, Institut Kh. Abdul Chalim.

Jalan Raya Tirtowening Pacet No. 17, Bendorejo, Bendunganjati, Kec. Pacet, Kab. Mojokerto jawa timur 61374

Abstrak

Keyword: Sejarah Perkembangan Psikologi, Kajian Psikologi Barat, Kajian Psikologi Islam

Psikologi keluarga Islam bersumber dari Barat yang mendalami ilmu jiwa atau psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan pada keluarga  dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama di dalam sikap, tingkah laku dan keadaan keluarga pada umumnya.

Dalam kajian psikologi barat dan psikologi islam mempunyai perbedaan tersendiri dalam memahami psikolgi keluarga. Psikologi barat menggunakan pendekatan yang terdiri dari: Teori Behavioral, Teori Kognitif, Teori Psikoanalisis dan Teori Humanistik. Sedangkan Kajian Psikologi Islam menggunakan pendekatan yang terdiri dari: al-Qur’an, hadis, kitab-kitab klasik seperti fiqih kelurga dan ahklah;  dan khasanah-khasanah klasik Islam yang membahasa tentang nafs dan manusia ini diterapkan atau pengaruh yang diberikan terhadap keluarga maupun individu di dalamnya.

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Psikologi keluarga agama bersumber dari Barat yang membahasa ilmu jiwa atau ilmu yang meneliti dan menelaah kehidupan pada keluarga dan sekaligus mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama di dalam sikap, tingkah laku dan keadaan keluarga pada umumnya. Disamping dari pada itu, psikologi agama mempelajari pula pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang dan faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut. Diantara pelopor kelahiran psikokogi islam Ipnu Sina, Alghazali sedadngkan pelopor psikologi barat seperti R.H. Thouless, Rudolf Otto, Sigmund Freud dan lain-lainnya.

Paradigma psikologi dari Barat yang pada umumnya memiliki corak objektivitas dan rasionalitas. Suatu studi dikatakan ilmiah apabila memiliki sifat objektif dan rasional atau dapat diterima oleh akan. Rasionalitas dan objektivitas menilai kebenaran pada dirinya sendiri dan pada hakikatnya bersifat relatif.

Pandangan demikian sepintas kurang sejalan dengan paradigma Islam yang mengajarkan dunia objektif atau dunia empiris bersifat semu. Untuk itu, umat Islam memerlukan acuan yang mutlak, tidak berubah seiring dengan pergeseran zaman dan perubahan peradaban masyarakat. Dalam konteks ini, demi mamahami secara fundamental mengenai pembahasan Psikologi hukum agama islam secara khusus di dalam keluarga maka sangat dibutuhkan pemahaman awal mengenai sajarah dari keluarga islam.

Sejarah psikologi hukum keluarga ini tidak dapat di lepaskan dengan sejarah psikologi barat, sehingga agar pembahasan ini lebih komprehensif kami disini mencoba menjelaskan sejarah psikologi barat hingga kajian psikologi kelurga barat dan keluarga islam.

PEMBAHASAN

A.    Perkambangan Kajian Psikologi Keluarga di Barat

Dalam garis besarnya, sejarah psikologi dapat dibagi dalam dua tahap utama, yaitu masa sebelum dan masa sesudah menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Kedua tahap ini dibatasi oleh berdirinya laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig pada tahun 1879 oleh Wilhelm Wundt.[3] Sebelum tahun 1879, psikologi dianggap sebagai bagian dari filsafat atau ilmu faal, karena psikologi masih dibicarakan oleh sarjana-sarjana dari kedua bidang ilmu itu yang kebetulan mempunyai minat terhadap gejala jiwa, tetapi tentu saja penyelidikan-penyelidikan mereka masih terlalu dikaitkan dengan bidang lain ilmu mereka sendiri saja. Pada saat Wundt berhasil mendirikan laboratorium psikologi di Leipzig, para sarjana kemudian baru mulai menyelidiki gejala-gejala kejiwaan secara lebih sistematis dan objektif.

 Metode-metode baru diketemukan untuk mengadakan pembuktian-pembuktian nyata dalam psikologi sehingga lambat laun dapat disusun teori-teori psikologi yang terlepas dari ilmu-ilmu induknya. Sejak masa itu pulalah psikologi mulai bercabang-cabang ke dalam aliran-aliran, karena bertambahnya jumlah sarjana psikologi tentu saja menambah keragaman berpikir dan banyak pikiran-pikiran itu yang tidak dapat disatukan satu sama lain. Karena itulah maka mereka yang merasa sepikiran, sependapat, menggabungkan diri dan menyusun suatu aliran tersendiri. Aliran-aliran behaviorisme, kognitif, psikoanalisis, Humanistis dan sebagainya.

Minat untuk menyelediki gejala kejiwaan sudah lama sekali ada di kalangan umat manusia ini. Mula-mula sekali ahli-ahli filsafat dari zaman Yunani Kuno lah yang mulai memikirkan tentang gejala-gejala kejiwaan. Pada waktu itu belum ada pembuktian-pembuktian nyata atau empiris, melainkan segala teori dikemukakan berdasarkan argumentasi-argumentasi logis (akal) belaka. Dengan perkataan lain, psikologi pada waktu itu benar-benar masih merupakan bagian dari filsafat dalam arti kata semurni-murninya. Tokoh-tokoh filsafat tersebut yang banyak mengemukakan teori-teori psikologi keluarga antara lain adalah Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384 – 322 SM).

Berabad-abad setelah itu, psikologi masih juga masih merupakan bagian dari filsafat, antara lain di Perancis muncul Rene Descarters (1596-1650) yang terkenal dengan teori tentang kesadaran dan di Inggris muncul tokoh-tokoh seperti John Locke (1623-1704), George Berkeley (1685-1753), James Mill (1773- 1836) dan anaknya John Stuart Mill (1806-1873) yang semuanya itu dikenal sebagai tokoh-tokoh aliran asosiasionisme.

Pada abad 19 dalam sejarah peradaban Barat diakui sebagai era Kelahiran Baru. Pembaharuan diawali dengan adanya Revolusi Industri yang di lakukan oleh masyarakat Inggris, dari masyarakat agraris dan perdagangan ke masyarakat industri hingga munculnya berbagai penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pembaharuan terpenting yang terjadi adalah ‘antroposentrime’ di mana manusia menjadi fokus pemikiran dari ousat alam semesta, karena itu era ini juga disebut sebagai era Humanisme. Reliasasinya antara lain berupa upaya memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM), menghapus diskriminasi yang salah satu contohnya diskriminasi terhadap wanita dan penelantaran anak.

Yang mana Wanita dan anak adalah salah satu anggota yang terdapat di dalam keluarga. Keluarga sebagai unit kecil kehidupan sosial dipandang paling potensial untuk mewujudkan sebuah peradaban yang ideal. Karena keluarga merupakan ruang kehidupan pertama bagi setiap individu dan memegang kendali dalam membentuk kepribadian. Hal inilah yang mendorong sejumlah ilmuwan untuk mengfungsikan teori-teori yang ada pada beberapa disiplin ilmu sebagai pendekatan dalam membangun profil kelurga ideal.

B.     Munculnya Kajian Psikologi Keluarga di Barat

Dalam menganalisa konsep para psikolog Barat dengan konsep Psikologi Islam sumber-sumber jiwa keagamaan maka bisa dikatakan keduanya memiliki kerangka berfikir yang sangat signifikan berbeda. Yang mana perbedaan ini adalah pandangan mengenai baik tidaknya esensialitas manusia. Islam memandang fitrah kemanusiaan adalah suci dan beriman, sedangkan pada aliran psikologi ada yang menganggap hakekat manusia buruk. Yang paling bertentangan adalah orientasi filosofis mengenai manusia. Psikologi kontemporer berorientasi antroposentrisme, sedangkan orientasi Psikologi Islami adalah teosentrisme (Allah sentrisme). Theosentrisme adalah pandangan yang mengakui bahwa Tuhan merupakan pusat dan asal seluruh ciptaanNya. Sedangkan antroposentrisme adalah pandangan yang mendudukkan manusia sebagai pusat segala pengalaman dan penentu semua peristiwa.

Dengan menganalisis berbagai pendapat psikolog Barat secara umum mereka belum dapat menggambarkan konsep manusia secara utuh dan lengkap. Seperti ketika menjelaskan rentang kehidupan manusia hanya sebatas kehidupan dunia. Manusia seakan-akan hidup dan mati begitu saja tanpa ada rencana dan tujuan yang hakiki.

Di barat mengenai perkembangan psikologi sudah sangat maju, kaya dengan penelitian-penelitian yang bersumber pada empiris dan metodologis. sehingga dari penelitian-penelitian ini mampu melahirkan cabang-cabang psikologi yang mencakup pelbagai wilayah.

Psikologi sebagai disiplin yang baru dikenal pada akhir abad 18 M. tetapi akarnya telah menghujam jauh ke dalam kehidupan primitf umat manusia sajak zaman dahulu kala. Plato pernah mengatakan bahwa manusia adalah jiwanya, sedangkan badannya hanyalah sekedar alat saja. dan hal ini berbeda dengan murid plato yakni Aristoteles yang mana ia mengatakan bahwa jiwa itu adalah fungsi dari badan sebagaimana penglihatan adalah fungsi dari mata.

Tetapi kajian tentang jiwa ini di masa yunani selanjutnya menurun bersamaan dengan runtuhnya peradaban Yunani. Runtuhnya peradaban Yunani Romawi memberi perluang kepada pemikir-pemikir Islam mengisi panggung sejarah. Melalui gerakan penterjemah dan kemudian komentar serta karya-karya yang orisinil.

Munculnya kajian psikologi keluarga pertama kali yaitu sekitar tahun 1960-an dan mulai populer di tahun 1970-an. Kemunculan studi ini secara historis ditandai dengan penulisan karya ilmiah khusus. Kaslow mencatat karya ilmiah pertama yang ditulis oleh para perintis, yaitu:

1.      Ackerman (1961) A Dynamic Frame for The Clinical Approach to Family Conflict.

2.      Boszormenyi-Nagy dan Framo (1965) Intensive Family Therapy.

3.      Satir (1967) Conjoint Family Therapy.

4.      Whitaker (1976) The Hindrance of Theory in Clinical Work.

Sejak saat itu mulai digelar beberapa konferensi dan didirikan klinik-klinik terapi untuk keluarga. Catatan Kaslow di atas dipertegas oleh James Bray yang mana saat pada tahun 1970-an ia menjumpai klinik terapi keluarga pertama di Amerika dengan nama ‘Family Therapy Training and Development’ yang berada di Universitas Houston. Bray mangatakan, bahwa operasional klinik tersebut melibatkan sejumlah ilmuwan dan praktisi yang terdiri dari:

1.      Ahli psikologi (psikiater)

2.      Ahli sosiologi

3.      Ahli ekologi dan

4.      Para perawat kesehatan melalui pendekatan multidisciplinary.

Dipertegas oleh Capra yang mengistilahkan pendekatan multi-disipliner untuk studi psikologi keluarga sebagai perspektif sistemik (systemic perspective). Yaitu kesatuan dari tiga metode yang mencakup:

1.      Penelitian kejiwaan melalui psikologi konvensional

2.      Penelitian perilaku keluarga perspektif sosiologi, dan

3.      Penelitian lingkungan keluarga dengan melibatkan ilmu ekologi.

Paradigma sistemik diatas sangat membantu dalam psikologi dalam memahami psikologi keluarga karena dapat memberikan kerangka kerja untuk konseptualisasi, menilai, mengobati, dan meneliti perilaku manusia. Wacana para ahli mengenai paradigma sistemik di atas menunjuk pada kesatuan pandangan bahwa psikologi keluarga dibangun atas konseptualisasi elaboratif antara tiga disiplin ilmu, yaitu psikologi, sosiologi dan ekologi.

Adapun sejumlah teori yang digunakan secara elaboratif dalam paradigm sistemik ini yaitu sebagai berikut:

Disiplin Ilmu

Jenis Teori

Keterangan

Psikologi

Teori Behavioral

Teori Behavioristik adalah teori yang mempelajari perilaku manusia yanng berfokus dalam menjelaskan tingkah laku manusia dan terjadi melalui rangsangan berdasarkan (stimulus) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respons) hukum-hukum mekanistik.

Teori Kognitif

Adalah teori yang menyatakan bahwa setiap perilaku mental manusia tidak lepas dari koginisi manusia itu sendiri dan persepsinya yang secara sadar dikuasai oleh manusia itu sendiri.

Teori Psikoanalisis

Adalah teroi yang menyatakan bahwa tingkah laku manusia justru didominasi oleh alam bawah sadar yang berisi id, ego, dan super ego.

Teori Humanistik

Teori Humanistik adalah Teori yang memandang manusia sebagai eksistensi yang positif dan menetukan, karen amemandang manusia sebagai mahluk yang unik, memiliki cinta, kreatifitas nilai dan makna serta petumbuhan pribadi. teroi ini mentebut manusia sebagai homo-ludens, yakni manusia yang mengerti makna kehidupan.

Sosiologi

Teori Structural Fungsional

Teori yang menegaskan bahwa masyarakat tersusun kepada bagian-bagian secara struktural yang saling berhubungan, serta mempunyai peran dan fungsinya masing-masing yang mendukung masyarakat dapat terus bereksistensi, dan jika salah satu bagian masyarakat yang berubah akan terjadi gesekan-gesekan ke bagian lain dari masyarakat ini.

Teori Konflik Sosial

Suatu langkah terhadap nilai dan pengakuan status didalam suatu tatanan yang berarada di masyarakat yang melibatkan orang-orang atau kelompok-kelompok yang saling dikotomis melalui konflik bukan nilai budaya yang ada.

Teori Interaksi Simbolik

Interaksionisme simbolik merupakan sebuah teori yang berusaha menjelaskan tingkah laku, sikap (gesture) masyarakat sosial melalui analisis makna.

Teori Pertukaran Sosial

Teori pertukaran sosial adalah teori dalam ilmu sosial yang menyatakan bahwa dalam hubungan sosial terdapat unsur ganjaran, pengorbanan, dan keuntungan yang saling mempengaruhi.

Ekologi

Teori Family Development

Kehidupan keluarga akan mengalami sublimasi, perkembangan yang dipengaruhi oleh lingkungan, menurut tahapan-tahapan perjalanan waktu.

Sejumlah teori ini (teori yang di ambil dari displin Ilmu: psikologis, Sosial dan Ekolgi) merupakan perangkat yang menjadi dasar terbangunnya kajian psikologi keluarga. Adanya keterlibatan teori-teori psikologi adalah didasarkan pada pembahasan psikologi keluarga ini yang melalui proses pengkajian pada jiwaan manusia, walaupun di spesifikan pada lingkup keluarga. Sedangkan keterlibatan teori-teori sosial didasarkan pada kebutuhan untuk mengamati bentuk keluarga, tipe, struktur, fungsi dan peran individu, serta gejala-gejala sosial lainnya yang muncul di dalam kehidupan keluarga. Sementara keterlibatan teori ekologi adalah untuk dapat meninjau lebih fundamnetal terhadap faktor lingkungan yang melingkupi keberlangsungan hidup keluarga.

C.    Munculnya Kajian Psikologi Keluarga dalam Islam

Psikologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang berfokus kepada tingkah laku personal manusia yang diasumsikan sebagai bentuk gejala dari jiwanya, sehingga dapat di simplifikasikan psikologi adalah ilmu jiwa. Namun sebenarnya objek psikologi adalah tingkah laku manusia yang nanti nya dalam perngkajiannya melalui perenungan terhadap tingkah laku manusia itu sendiri.

Psikologi memiliki arti keilmuan yang mempelajari tentang jiwa. Keluarga merupakan sekelompok orang yang memiliki hubungan darah satu dengan yang lainnya. Menurut Hill, keluarga diartikan sebagai suatu rumah tangga dengan hubungan darah atau perkawinan dan sebagai tempat yang terselenggaranya fungsi fungsi ekspresif keluarga bagi individu individu di dalamnya.

Psikologi keluarga Islam sendiri merupakan ilmu pengetahuan yang masih relatif baru. Berbagai perjuangan dilakukan oleh kaum cendekiawan Muslim untuk memperkenalkan psikologi keluarga. Perjuangan dilakukan dimulai dari tingkat diskusi, seminar, penelitian ilmiah terus dilakukan. Selain itu, segala hasil penelitian kemudian dipublikasikan dalam buku dan jurnal sehingga menambah wawasan keilmuan.

Istilah Psikologi Islam memang tidak mudah begitu saja terlepas dari istilah psikolog Barat.  Kemunculan Psikologi Islam tidak terlepas dari mahasiswa Muslim yang mendalami psikologi Barat yang kemudian mereka membanding-bandingkan antara psikolog Barat dan apa yang ada dalam Islam. Selanjutnya mereka kemudian mengkritisi pandangan-pandangan psikolog Barat dan akhirnya mengalihkan perhatian kepada al-Qur’an, hadis, dan khasanah-khasanah klasik Islam yang membahas tentang nafs dan manusia.

Psikologi keluarga islam dalam mendalami Psikologi keluarga menggunakan pemahaman dasar  al-Qur’an, hadis, kitab-kitab klasik seperti fiqih kelurga dan ahklah; dan khasanah-khasanah klasik Islam yang membahasa tentang nafs dan manusia ini diterapkan atau pengaruh yang diberikan terhadap keluarga maupun individu di dalamnya.

Kelahiran psikologi Islam bisa saja disebut sebagai ekspresi ketidakpuasan terhadap aliran psikologi barat yang ada. Perkembangan psikologi dikuasai oleh aliran Teori Behavioral, Teori Kognitif, Teori Psikoanalisis, Teori Humanistik. Jika psikologi Islam berkembang maka bisa saja disebut sebagai aliran yang berikutnya.

Kehadiran psikologi Islam juga merupakan wujud dukungan dalam mengadopsi konsep-konsep psikologi Islam dengan mengangkat pesan Ilahi baik dari al-Qur’an, hadis, dan penafsiran para ulama terkait hal tersebut. Hal ini berimplikasi dengan mengabaikan pandangan-pandangan psikologi yang berasal dari mayoritas non-Islam yang sudah lama berkembang.

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dalam garis besarnya, sejarah psikologi dapat dibagi dalam dua tahap utama, yaitu masa sebelum dan masa sesudah menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Kedua tahap ini dibatasi oleh berdirinya laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig pada tahun 1879 oleh Wilhelm Wundt.  Dengan menggunakan pendekatan psikolgi dari bagian dari filsafat dalam arti kata semurni-murninya. Tokoh-tokoh filsafat tersebut yang banyak mengemukakan teori-teori psikologi keluarga antara lain adalah Plato (427-347 SM)  dan Aristoteles (384 – 322 SM).

Berabad-abad setelah itu, psikologi masih juga masih merupakan bagian dari filsafat sehingga nantinya psikologi menjadi pengetahuan tersendiri (terpisah dengan filsafat), antara lain di Perancis muncul Rene Descarters (1596-1650) yang terkenal dengan teori tentang kesadaran dan di Inggris muncul tokoh-tokoh seperti John Locke (1623-1704), George Berkeley (1685-1753), James Mill (1773- 1836) dan anaknya John Stuart Mill (1806-1873) yang semuanya itu dikenal sebagai tokoh-tokoh aliran asosiasionisme.

Munculnya kajian psikologi keluarga pertama kali yaitu sekitar tahun 1960-an dan mulai populer di tahun 1970-an. Kemunculan studi ini secara historis ditandai dengan penulisan karya ilmiah khusus. Kaslow mencatat karya ilmiah pertama yang ditulis oleh para perintis, yaitu: 1. Ackerman (1961) A Dynamic Frame for The Clinical Approach to Family Conflict; 2. Boszormenyi-Nagy dan Framo (1965) Intensive Family Therapy; 3. Satir (1967) Conjoint Family Therapy; 4. Whitaker (1976) The Hindrance of Theory in Clinical Work.

Catatan Kaslow di atas dipertegas oleh James Bray yang mana saat pada tahun 1970-an ia menjumpai klinik terapi keluarga pertama di Amerika dengan nama ‘Family Therapy Training and Development’ yang berada di Universitas Houston. Bray mangatakan, bahwa operasional klinik tersebut melibatkan sejumlah ilmuwan dan praktisi yang terdiri dari: 1. Ahli psikologi dengan menggunakan Teori Behavioral, Teori Kognitif, Teori Psikoanalisis dan Teori Humanistik; 2. Ahli sosiologi dengan menggunakan Teori Structural Fungsional, Teori Konflik Sosial, Teori Interaksi Simbolik dan Teori Pertukaran Sosial ; 3. Ahli ekologi dengan menggunakan Teori Family Development.

Psikologi keluarga Islam sendiri merupakan ilmu pengetahuan yang masih relatif baru. Berbagai perjuangan dilakukan oleh kaum cendekiawan Muslim untuk memperkenalkan psikologi keluarga. Kemunculan Psikologi Islam tidak terlepas dari mahasiswa Muslim yang mendalami psikologi Barat yang kemudian mereka membanding-bandingkan antara psikolog Barat dan apa yang ada dalam Islam.

Selanjutnya mereka kemudian mengkritisi pandangan-pandangan psikolog Barat dan akhirnya mengalihkan perhatian pemahaman dasar  al-Qur’an, hadis, kitab-kitab klasik seperti fiqih kelurga dan ahklah;  dan khasanah-khasanah klasik Islam yang membahasa tentang nafs dan manusia ini diterapkan atau pengaruh yang diberikan terhadap keluarga maupun individu di dalamnya.


 


DAFTAR PUSTAKA

Zubaedi, Komparasi Psikologi Agama Barat Dengan Psikologi Islami (Menuju Rekonstruksi Psikologi Islami), NUANSA Vol. VIII, No. 1, Juni 2015.

Adnan Achiruddin Saleh, 2018, Pengantar Psikologi, (Makassar: Penerbit Aksara Timur).

Nashrun Jauhari, Ratna Suraiya, Psikologi Keluarga Islam Sebagai Disiplin Ilmu (Telaah Sejarah Dan Konsep), NIZHAM, Vol. 8, No. 02 Juli-Desember 2020

Rizka Amalia, Ahmad Nur Fadholi, Teori Behavioristik, Mahasiswa Fakultas Agama Islam, Program Studi PAI, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Sutarto, Teori Kognitif dan Implikasinya Dalam Pembelajaran, Islamic Counseling Vol 1 No. 02 Tahun 2017, Stain Curup, P-ISSN 2580-3638, E-ISSN 2580-3646.

Helaluddin, Syahrul Syawal, Psikoanalisis Sigmund Freud dan Implikasinya dalam Pendidikan.

Mufidah, 2014, Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender, (Malang: UIN-MALIKI PRESS).

Ida Zahara Adibah, Struktural Fungsional Robert K. Merton: Aplikasinya dalam Kehidupan Keluarga, INSPIRASI - Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2017.

Rusdi Anto, Teori-teori Sosiologi hukum Fungsional Struktural, Pusat Studi Perencanaan dan Pembangunan Masyarakat.

Habib Alwi, 2016, Pengantar Studi Konflik Sosial Sebuah Tinjauan Teoretis, (Mataram: Institut Agama Islam Negeri IAIN).

Debi Setiawati, Interaksionisme Simbolik Dalam Kajian Sejarah, Agastya-Vol. 1, Januari 2011.

Mahfudh Fauzi, 2018, Diktat Psikologi Keluarga, (Tanggerang: PSP Nusntara Press).

Danu Aris Setiyanto, Konstruksi Pembangunan Hukum Keluarga Di Indonesia Melalui Pendekatan Psikologi, AL-AHKAM p-ISSN: 0854-4603; e-ISSN: 2502-3209 Volume 27, Nomor 1, April 2017.


Download dalam bentuk pdf: